TENTANG MINYAK SAWIT INDONESIA

Sebuah artikel lama bersumber Majalah CULTURAL yang terbit Desember 2012 – Januari 2013 dengana judul “Tak Ada Bukti Ilmiah Minyak Sawit Tidak Sehat” rasanya cukup menjadi referensi kita terkait dampak serta kebenaran minyak sawit dan seluk beluknya.

Tersaji ringkas dan informatif, poin yang disampaikan melalui 9 paragraf berisi, ternyata gamblang memaparkan bahwa isu yang berkembang saat ini hanyalah black campaign semata untuk kepentingan bisnis tanpa dibarengi bukti ilmiah yang jelas.

Ilustrasi diambil dari : Villagerspost.com

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono, di Nusa Dua, Bali dalam acara ‘8th Indonesian Palm Oil Conference and 2013 Price Outlook’ mengatakan ; “Black campaign soal sawit itu karena kepentingan bisnis”. Selanjutnya Mentan mengemukakan, pihaknya telah bekerjasama dengan beberapa negara termasuk Amerika Serikat untuk melakukan penelitian terkait minyak sawit terhadap kesehatan. Namun yang beliau justru mengkhawatirkan, “jika dipublikasikan saat itu, mereka para pembuat black campaign akan mencari celah untuk menghantam Indonesia (soal sawit). Dan hal seperti ini di luar negeri banyak dilakukan oleh (Lembaga Swadaya Masyarakat) (LSM) lingkungan tanpa disertai pertimbangan ilmiah, yang lebih cenerung kearah bisnis.

Namun terlepas dari kebenaran isu ilmiah Minyak Sawit terhadap kesehatan, lebih dalam saya menilai bahwa perkembangan produksi Minyak Sawit yang merangkak naik, terlihat dengan tambah luasnya area tanam pohon sawit hingga saaat ini, haruslah dibarengi dengan peremajan lingkungan serta ekosistemnya, mengacu kearifan lokal yang ada.

Dan salut jika saat ini masih ada perusahaan-perusahaan yang selalu konsisten menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan sekitarnya, tanpa menutup mata pun kucuran rupiah mengalir deras siempunya.

TAHUKAH KITA ?

Tahukah kita, pangsa pasar Minyak Sawit terbesar Indonesia adalah India dan Cina, dimana tak lama lagi investasi dari keduanya bakal mbanjir secara bertubi-tubi dalam kepemimpinan Presiden terbaru Jokowi – JK (jika sempat dilantik).

Tahukah kita, sekitar tahun 2012 Prancis berencana menaikkan pajak Minyak Sawit sebesar 300% yang diistilahkan dengan pajak Nutella. Sebuah alasan terkait ini, sebab bahaya gizi dari lemak nabati kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan utama dalam hazelnut coklat favorit dan bahan makanan di negara itu sehingga dinaikkan pajaknya. Tujuannya, untuk mengurangi konsumsi luas di negara tersebut dimana rata-rata konsumsi Minyak Sawit pertahun 2 kg atau 126.000 ton.

Tahukah kita, selain black campaign melalui bahaya Minyak Sawit, pihak yang anti-Minyak Sawit juga kampanyekan deforestasi yang meluas di Kalimantan serta Sumatera, mengusur dan membunuh populasi orang utan yang terancam punah karena pembukaan lahan perkebunan sawit yang edan-edanan.



Ingat, apapun yang berlebihan tidak baik untuk kemaslahatan. Pun pendapatan negara akan bertambah dibarengi bertambahnya tenaga kerja (mungkin), produksi Minyak Sawit yang berlebihan berimplikasi langsung pada perluasan hutan serta ekosistem hutan tersebut yang jelas mengikis kearifan lokal di daerah tersebut.

Konsumsi Minyak Sawit yang berlebihan punya dampak negatif terhadap kesehatan penikmatnya, meski kadar kolesterolnya minim atau sama sekali non kolesterol (kalo ada).

-----

Ditulis oleh Abu Bilal, 03 Oktober 2014
Referensi : majalah Kultural dan kondisi terkini bangsa Indonesia
buletin Maqwa
Mari bersilaturahmi lewat Twitter @ABUBILAL_com atau Facebook Mas Ivan

0 komentar:

Gunakan format [video]youtube-or-vimeo-video-link[/video] jika ingin berkomentar disertai youtube video.
Atau silakan gunakan format [img]image-link[/img] jika ingin berkomentar disertai gambar.